Cara Menghitung HPP: Rumus Dagang + HPP per Unit dari Resep/Batch (+ Kalkulator HPP)
Dicek 31 Oktober 2026. Halaman ini gratis, tanpa daftar, dan semua hitungan terjadi di browser pengunjung — tidak ada data yang dikirim ke server.
Jawaban cepat: ada dua HPP yang sering tertukar. HPP periode menjawab "berapa biaya barang yang terjual selama sebulan?" dan dipakai untuk laporan keuangan. HPP per unit menjawab "berapa biaya satu produk ini?" dan dipakai untuk menentukan harga jual. Rumus dagang: HPP = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Rumus produksi per unit: (bahan baku + tenaga kerja + overhead + waste + penyusutan + kemasan) ÷ jumlah unit per batch. Kalkulator di bawah menghitung keduanya, lalu melanjutkannya ke harga jual dan laba setelah fee marketplace.
Kalkulator HPP
Pilih mode usahamu, isi angka tokomu sendiri, lalu tekan Hitung. Kosongkan harga jual bila kamu hanya ingin tahu HPP-nya saja.
Rumus dagang:
HPP periode = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir
HPP per unit = HPP periode ÷ jumlah unit terjual
Isi 0 bila jual tanpa marketplace. Tarif admin Shopee per subkategori ada di halaman Biaya Admin Shopee.
Lanjutan dari HPP per unit:
Fee per unit = harga jual × fee%
Laba per unit = harga jual − fee per unit − HPP per unit
Margin laba = laba per unit ÷ harga jual × 100%
Catatan: kalkulator ini menghitung biaya produksi/dagang dan fee marketplace saja. Pajak, ongkir yang ditanggung penjual, retur, dan biaya iklan belum masuk — bila ada, kurangi dari laba di atas. Alat bantu hitung ini bukan jaminan keuntungan.
Dua HPP yang Sering Tertukar
HPP periode adalah total biaya barang yang terjual dalam satu periode (misalnya sebulan). Ini angka laporan keuangan: dipakai untuk menghitung laba kotor periode itu (omzet − HPP periode). Satuannya rupiah per periode, bukan per produk.
HPP per unit adalah biaya satu produk. Ini angka penetapan harga: dari sinilah kamu tahu harga jual minimum yang tidak rugi, dan berapa laba tiap unit setelah fee. Satuannya rupiah per unit.
Kebingungan klasiknya begini: seller tahu HPP sebulannya Rp8.500.000, lalu bingung kenapa harga jual Rp30.000 "terasa" untung tapi saldo tidak naik — karena ia tidak pernah membagi HPP periode itu dengan jumlah unit terjual. Begitu dibagi, barulah terlihat HPP per unitnya, dan barulah harga jual bisa dinilai. Urutan yang benar: hitung HPP periode (bila dagang) atau HPP per batch (bila produksi), bagi ke per unit, baru tentukan harga jual.
| HPP periode | HPP per unit | |
|---|---|---|
| Menjawab | Berapa biaya barang terjual sebulan ini? | Berapa biaya satu produk ini? |
| Satuan | Rp per periode | Rp per unit |
| Pakai untuk | Laporan laba rugi | Harga jual, diskon, dan laba per unit |
| Didapat dari | Persediaan awal + pembelian − persediaan akhir | Total biaya batch ÷ unit layak jual |
Rumus Dagang + Contoh yang Dikerjakan
Rumus dagang: HPP periode = persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Logikanya: barang yang tersedia untuk dijual adalah stok lama ditambah barang yang dibeli; yang masih tersisa di gudang akhir periode belum terjual, jadi dikurangkan. Yang terjual itulah HPP periode.
Contoh dagang: Toko Bu Ani (reseller sembako kemasan), satu bulan
- Persediaan awal bulan: Rp2.000.000; pembelian selama bulan: Rp8.000.000; persediaan akhir bulan: Rp1.500.000.
- HPP periode = Rp2.000.000 + Rp8.000.000 − Rp1.500.000 = Rp8.500.000.
- Unit terjual selama bulan: 500 unit. HPP per unit = Rp8.500.000 ÷ 500 = Rp17.000.
- Harga jual Rp30.000, fee marketplace 10%: fee = Rp30.000 × 10% = Rp3.000. Laba per unit = Rp30.000 − Rp3.000 − Rp17.000 = Rp10.000. Margin = Rp10.000 ÷ Rp30.000 = 33,33%.
Perhatikan langkah 3: tanpa membagi 500 unit, angka Rp8.500.000 tidak bisa dipakai menentukan harga. Dan perhatikan langkah 4: laba Rp10.000 itu setelah fee — sebelum fee, laba tampak Rp13.000, selisih Rp3.000 yang mudah membuat seller merasa lebih untung dari kenyataannya.
Rumus Produksi per Unit + Contoh Keripik Singkong
Rumus produksi per unit: HPP per unit = (bahan baku × (1 + waste%) + tenaga kerja + overhead + penyusutan + kemasan) ÷ jumlah unit layak jual per batch. Waste dihitung dari bahan baku karena bahanlah yang susut (terbuang, gosong, pecah, atau menyusut saat digoreng); upah dan overhead tidak ikut dikalikan waste.
Contoh produksi: Keripik Singkong Bu Ani, satu batch 80 bungkus
- Bahan baku per batch: singkong 20 kg × Rp4.000 = Rp80.000; minyak 2 liter × Rp20.000 = Rp40.000; bumbu Rp30.000. Total bahan = Rp150.000.
- Waste 5%: Rp150.000 × 5% = Rp7.500. Bahan setelah waste = Rp157.500.
- Tenaga kerja per batch Rp100.000; overhead (gas + listrik) Rp50.000; penyusutan alat Rp12.500; kemasan 80 bungkus × Rp500 = Rp40.000.
- Total biaya batch = Rp157.500 + Rp100.000 + Rp50.000 + Rp12.500 + Rp40.000 = Rp360.000.
- HPP per bungkus = Rp360.000 ÷ 80 = Rp4.500.
- Harga jual Rp10.000, fee marketplace 10%: fee = Rp1.000. Laba per bungkus = Rp10.000 − Rp1.000 − Rp4.500 = Rp4.500. Margin = 45%.
Contoh ini bisa langsung dicek di kalkulator di atas: pilih mode Produksi, isi bahan 150000, waste 5, tenaga kerja 100000, overhead 50000, penyusutan 12500, kemasan 40000, unit 80, harga jual 10000, fee 10 — hasilnya HPP Rp4.500, fee Rp1.000, laba Rp4.500.
Yang Masuk HPP dan yang Tidak
| Masuk HPP | Alasan singkat | Tidak masuk HPP | Alasan singkat |
|---|---|---|---|
| Bahan baku dan bahan penolong | Habis dipakai untuk membuat produk itu | Biaya marketing / iklan | Biaya menjual, bukan biaya membuat |
| Kemasan primer (bungkus, label) | Ikut ke pembeli sebagai bagian produk | Gaji manajemen / pemilik sebagai pengelola | Biaya administrasi usaha (lihat FAQ gaji pemilik) |
| Upah pekerja produksi | Tenaga langsung membuat produk | Bunga pinjaman / biaya bank | Biaya pendanaan, bukan biaya produksi |
| Gas, listrik, air per batch | Dipakai selama produksi batch itu | Ongkir ke pembeli | Biaya pengiriman, dipisah dari biaya produk (lihat FAQ) |
| Penyusutan alat produksi | Alat aus sedikit demi sedikit tiap batch | Kemasan pengiriman sekunder berlebih | Bila di luar kemasan produk standar, catat sebagai biaya kirim/packing terpisah |
Waste dan Produk Gagal: Dibebankan ke Unit yang Layak Jual
Waste bukan dihapus dari hitungan — ia dibebankan ke unit yang berhasil dijual, karena unit yang gagal tetap memakan bahan, gas, dan upah. Itulah kenapa pembagi di rumus produksi adalah unit layak jual, bukan unit yang direncanakan.
Contoh waste: satu batch seharga Rp575.000
Sebuah batch menelan total biaya Rp575.000 (bahan Rp400.000, tenaga kerja Rp100.000, overhead Rp50.000, penyusutan Rp5.000, kemasan Rp20.000, waste 0% karena gagalnya sudah terpisah di jumlah unit). Rencana awal 120 unit, tetapi 5 unit gagal, sehingga yang layak jual hanya 115 unit.
- Bila salah membagi dengan 120: Rp575.000 ÷ 120 = Rp4.791,67 per unit — terlalu rendah, seolah-olah unit gagal tidak berbiaya.
- Pembagi yang benar, 115: Rp575.000 ÷ 115 = Rp5.000 per unit.
Selisih Rp208,33 per unit itu kelihatan kecil, tetapi dikali ratusan unit per bulan, ia adalah selisih antara "katanya untung" dan saldo yang benar-benar bertambah. Untuk kuliner, waste yang wajar umumnya 2–10% (lihat FAQ); bila waste-mu konsisten di atas 10%, masalahnya biasanya di resep, takaran, atau proses — bukan di rumus.
HPP Makanan per Porsi vs HPP Non-Makanan
| Input HPP | Makanan / kuliner (per porsi atau per batch) | Non-makanan (reseller, fashion, kerajinan) |
|---|---|---|
| Bahan | Bahan per takaran pakai (gram, ml) × harga per gram/ml; waste wajib dihitung | Harga beli per unit dari supplier; waste biasanya kecil atau nol |
| Tenaga kerja | Upah masak / packing per batch | Upah jahit / rakit / packing bila ada; reseller murni sering nol |
| Overhead | Gas, listrik, air per batch | Listrik, sewa, alat (mis. mesin jahit) dibebankan per batch/unit |
| Penyusutan | Wajan, oven, mixer, freezer | Mesin jahit, printer, alat kerajinan |
| Kemasan | Cup, bungkus, label, segel | Polybag, dus, hangtag, label |
| Mode kalkulator | Mode Produksi | Mode Dagang (reseller) atau Mode Produksi (kerajinan yang dibuat sendiri) |
Dari HPP ke Harga Jual ke Fee Marketplace (Satu Alur Ujung-ke-Ujung)
Contoh keripik di atas dirangkai penuh: HPP per bungkus Rp4.500 → harga jual Rp10.000 → fee marketplace 10% = Rp1.000 → laba bersih per bungkus Rp4.500 (margin 45%). Bila bungkus itu didiskon 20% menjadi Rp8.000, fee ikut turun (Rp800) tetapi laba jatuh lebih dalam: Rp8.000 − Rp800 − Rp4.500 = Rp2.700 (margin 33,75%). Inilah kenapa diskon tidak boleh diputuskan dari harga jual saja — ia harus dihitung dari HPP dan fee sekaligus. Rumus dan kalkulator diskonnya ada di halaman Cara Menghitung Diskon, dan rumus harga jual dari target margin ada di halaman Cara Menentukan Harga Jual.
HPP di Excel / Google Sheets (Rumus yang Bisa Disalin)
Mode dagang (A2 = persediaan awal, B2 = pembelian, C2 = persediaan akhir, D2 = unit terjual):
HPP periode: =A2+B2-C2 HPP per unit: =(A2+B2-C2)/D2
Mode produksi (A2 = bahan, B2 = waste% dalam bentuk desimal mis. 0,05, C2 = tenaga kerja, D2 = overhead, E2 = penyusutan, F2 = kemasan, G2 = unit layak jual):
Total batch: =A2*(1+B2)+C2+D2+E2+F2 HPP per unit: =(A2*(1+B2)+C2+D2+E2+F2)/G2
Lanjutan ke laba (H2 = HPP per unit, I2 = harga jual, J2 = fee% desimal mis. 0,10):
Fee: =I2*J2 Laba: =I2-I2*J2-H2 Margin: =(I2-I2*J2-H2)/I2
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Berapa waste yang wajar untuk kuliner?
Umumnya 2–10%, dan bila belum punya data sendiri, mulailah dari 5%. Waste di bawah 2% patut dicurigai (mungkin ada susut yang belum tercatat, misalnya bumbu yang menempel di wadah atau minyak yang terserap); waste di atas 10% secara konsisten menandakan masalah proses — takaran tidak konsisten, suhu tidak stabil, atau bahan yang cepat rusak. Catat waste nyata beberapa batch, lalu ganti angka 5% itu dengan angka tokomu sendiri.
Apakah gaji pemilik masuk HPP?
Tergantung peranmu. Bila kamu sendiri yang memasak, menjahit, atau packing — upah untuk pekerjaan produksi itu masuk HPP, meskipun kamu tidak menggaji dirimu secara formal. Hitung dengan tarif wajar (misalnya upah harian pekerja sejenis ÷ jumlah batch per hari) supaya HPP tidak tampak murah palsu. Tetapi gaji pemilik sebagai pengelola usaha (mengurus toko, admin, strategi) adalah biaya administrasi, bukan HPP — ia dipotong dari laba kotor, bukan dari HPP per unit. Seller yang tidak memasukkan upah produksinya sendiri adalah penyebab klasik "laku tapi tidak ada uangnya": labanya sebenarnya adalah upahnya yang tidak dibayar.
Apakah ongkir masuk HPP?
Tidak. Ongkir adalah biaya pengiriman, bukan biaya membuat produk. Bila ongkir ditanggung pembeli (atau subsidi marketplace), ia tidak mengurangi HPP. Bila kamu menanggung ongkir (misalnya gratis ongkir toko sendiri di luar program marketplace), catat ongkir itu sebagai pengurang laba per pesanan — harga jual − fee − HPP − ongkir — bukan dengan menaikkan HPP. Mencampur ongkir ke HPP membuat HPP per unit berubah-ubah tergantung tujuan kirim, padahal biaya membuat produknya sama.
Apa beda HPP dan food cost?
Food cost adalah bagian dari HPP: hanya biaya bahan makanan (dan kadang kemasan makanan) dibagi harga jual, biasanya dinyatakan dalam persen. HPP lebih luas: bahan + tenaga kerja + overhead + penyusutan + kemasan. Contoh keripik di atas: food cost-nya (bahan setelah waste Rp157.500 ÷ 80 = Rp1.968,75 per bungkus) hanyalah sebagian dari HPP Rp4.500. Seller yang menyamakan keduanya akan mengira biayanya Rp1.969 padahal Rp4.500 — dan menetapkan harga jual terlalu rendah.
Bagaimana HPP untuk jasa?
Jasa tidak punya persediaan barang, tetapi logikanya sama: HPP jasa = biaya langsung untuk mengerjakan satu jasa itu. Misalnya jasa desain: (upah desainer per proyek + listrik/internet yang dibebankan + penyusutan laptop per proyek + revisi yang gagal dibebankan ke proyek yang jadi). Rumusnya: total biaya langsung proyek ÷ jumlah unit jasa yang terjual (bila satu proyek = satu unit, tidak perlu dibagi). Yang tidak masuk: biaya marketing, sewa kantor umum, dan gaji admin — itu biaya operasional yang dipotong dari laba kotor.
Apakah HPP sama dengan modal?
Tidak persis. "Modal" sehari-hari sering berarti semua uang yang dikeluarkan untuk memulai dan menjalankan usaha (termasuk sewa, peralatan, iklan, dan stok awal). HPP hanyalah biaya barang/jasa yang terjual itu sendiri. Modal awal membeli peralatan Rp5.000.000 tidak berarti HPP per unit naik Rp5.000.000 — peralatan itu masuk lewat penyusutan kecil per batch selama umurnya.
← Kembali ke kalkulator gratis di beranda Hand by Han — kalkulator seller gratis, tanpa daftar, dihitung di browser pengunjung. Lanjut ke: Biaya Admin Shopee, Cara Menghitung Diskon, Cara Menentukan Harga Jual, Kalkulator Shopee.